Laporan Tahunan Seksi PLP th 2008

Senin, 09 Maret 2009

I. PENDAHULUAN.
Pembangunan Kesehatan merupakan bagian integral dari Pembangunan Nasional bangsa Indonesia, untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan sebagaimana yang dituangkan dalam sistem kesehatan nasional yaitu mewujudkan masyarakat yang maju dan mandiri sehat sejahtera lahir dan bathin maka perlu kiranya diselenggarakan pembangunan kesehatan itu secara terencana, terarah dan berkesinambungan. Hal ini berkaitan erat dengan keinginan dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu mewujudkan masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara Sehat di Tahun 2008 dan sekaligus menunjang untuk Indonesia Sehat Tahun 2010.
Perumahan dan Pemukiman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, disamping sandang pangan, pendidikan dan kesehatan. Perumahan beserta sarana pendukungnya merupakan pencerminan jati diri manusia, baik secara perseorangan maupun dalam satu kesatuan dan kebersamaan serta keserasian dengan lingkungan sekitarnya. Perumahan dan pemukiman juga mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak kepribadian sehingga perlu dibina dan dikembangkan demi kelangsungan serta peningkatan penghidupan masyarakat.
Agar tercipta suatu perumahan dan pemukiman yang layak, sehat, aman dan serasi dengan lingkungannya harus diikuti dengan pembangunan kesehatan dengan usaha perbaikan prasarana penyehatan lingkungan seperti penanganan limbah, persampahannya, disamping penyuluhan teknis agar kepedulian masyarakat dalam penyediaan pendanaan, pengelolaan serta peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan di wilayahnya makin meningkat.

II. TUJUAN
A.TUJUAN UMUM
Tujuan program penyehatan lingkungan pemukiman adalah untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang lebih sehat agar dapat melindungi masyarakat dari segala kemungkinan kejadian yang dapat menimbulkan gangguan dan atau bahaya kesehatan, menuju derajat kesehatan keluarga dan masyarakat yang lebih baik.

B. TUJUAN KHUSUS

1. Meningkatnya tempat-tempat pengelolaan pestisida yang memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan KEP MEN KES RI NO. 1350/MENKES/SK/XII/2001 Tentang : Pengelolaan Pestisida
2. Untuk mengetahui tingkat pparan pestisida (keracunan pestisida) dalam darah para penjamah pestisida
3. Meningkatnya tempat-tempat pengelolaan sampah yang memenuhi syarat kesehatan
4. Untuk mengurangi kepadatan lalat dengan tujuan mengurangi penyakit yang disebabkan oleh vector lalat
5. Untuk mengetahui tingkat pencemaran udara terutama debu ambient didaerah perkotaan
6. Mengetahui tingkat pencemaran udara didaerah perkotaan serta untuk mengetahui kadar polusi udara
7. Mengetahui data perumahan yang sehat dengan upaya untuk meningkatkan kualitas perumahan dan lingkungan yang sehat dan memenuhi syarat kesehatan pada perumahan yang tidak memenuhi syarat kesehatan
8. Meningkatkan sumber daya jumantik
9. Mendapatkan Angka Bebas Jentik (ABJ) diperumahan
10. Mengurangi/membersihkan tempat-tempat air yang diduga menjadi sarang nyamuk.

III. SASARAN

Sasaran program Penyehatan Lingkungan Perumahan tahun 2008 yang akan dicapai adalah :
1. Seluruh tempat pengelolaan pestisida termasuk diantaranya pest control,perkebunan,KUD,toko/kios pestisida dan lainnya
2. Supervisor,operator dan penggunaan pestisida lainnya termasuk penjual/pedagang pestisida
3. Tempat Pengelolaan Sampah Sementara (TPS)
4. Tempat Pengelolaan sampah Akhir (TPA)
5. Pengawasan ambien udara debu terendap daerah perkotaan
6. Terwujudnya perumahan dan lingkungan yang sehat yang memenuhi syarat-syarat kesehatan
7. Tercapainya peningkatan sarana kesehatan yang memenuhi standar kualitas kesehatan
8. Seluruh kader jumantik akan semakin cakap dalam melaksanakan survey jentik
9. Mengurangi atau menurunkan penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypty
10. Meningkatnya angka bebas jentik (ABJ) pada daerah-daerah kantong penyebaran demam berdarah


IV. KEBIJAKAN

1. Mendorong dan meningkatkan peran serta masyarakat, organisasi kemasyarakatan termasuk swasta dan organisasi profesi dalam setiap tahap pelaksanaan program.
2. Mempercepat dan meningkatkan upaya pengningkatan kesehatan lingkungan pemukiman melalui pembinaan, bimbingan, pemberian kemudahan dan dorongan berusaha serta penyuluhan kepada masyarakat termasuk swasta, terutama didesa tertinggal, daerah kumuh, daerah perbatasan/terpencil dan daerah khusus lainnya.
3. Meningkatkan peran pemerintah daerah dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi upaya-upaya penyehatan lingkungan pemukiman.
4. Mengembangkan dan memasyarakatkan peraturan perundang-undangan dengan menerapkan prosedur standar persyaratan kesehatan lingkungan dalam rangka pengawasan kualitas kesehatan lingkungan.


V. KEGIATAN

Kegiatan program Penyehatan Lingkungan Perumahan tahun 2008 yang
dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1. Pembinaan dan pengawasan Tempat pengelolaan Pestisida ( TP2 )
a. Pengawasan Tempat Pengelolaan Pestisida ( TP2 ) Penyuluhan dan Sertifikasi Tempat Pengelolaan Pestisida pada 6 (enam ) lokasi Puskesmas,Yaitu : Mangkurawang,Rapak Mahang,Loa Ipuh, Separi III,Muara Badak dan Marangkayu.
b. Pemeriksaan Cholinesterase darah pada 8 (delapan) lokasi Puskesmas, yaitu : Muara Muntai,Rimba Ayu,Muara Badak,Marangkayu,Kembang Janggut,Loa Kulu,Mangkurawang,Loa Ipuh,Rapak Mahang dan Batuah.
2. Pengendalian dampak negatife sampah
a. Pembinaan dan pengawasan pengelolaan sampah di pemukiman dengan sasaran pada 11 ( sebelas ) kecamatan yaitu : Loa Kulu,Loa Janan,Muara Badak,Loa Duri,Muara Jawa,Separi III,Kembang Janggut,Rapak Mahang,Loa Ipuh dan Mangkurawang 2 kali kegiatan.
b. Pengukuran indeks lalat sebanyak 4 kali Selama 1 tahun
c. Usaha pemberantasan vektor penyakit lalat di ditempat – tempat pembuangan sampah dengan melakukan penyemprotan lalat sebanyak 4 ( empat ) kali selama setahun
3. Di daerah perkotaan dengan indikasi pencemaran udara tinggi dilaksanakannya pemantauan kualitas udara debu terendap sebanyak 5 kali selama 1 tahun pada 5 lokasi pemantauan, yaitu : Pasar tangga arung,Museum Mulawarman,Kantor Bupati Kukar,Puskesmas Rapak Mahang dan TPA Bekotok
4. Pembinaan dan pemantauan kesehatan lingkungan pemukiman perumahan dan bangunan
a. Kegiatan temu karya desa pada 2 ( dua) lokasi puskesmas di Puskesmas Anggana dan Kota Bangun
b. Pelatihan kader jumantik dan survey jentik di 6 (enam ) kecamatan , yaitu Tenggarong,Loa Kulu,Loa Duri,Muara Badak,Teluk Dalam dan Kec.Anggana.
c. Pendataan/survey rumah sehat dan survey jentik sebagai upaya menurunkan tingkat penyebaran nyamuk demam berdarah dan mengetahui Angka Bebas Jentik ( ABJ ).
VI. HASIL KEGIATAN

1. Pembinaan dan pengawasan Tempat pengelolaan Pestisida ( TP2 )
a. Pengawasan Tempat Pengelolaan Pestisida ( TP2 )
Hasil kegiatan pemantauan dapat dilihat dari rekapitulasi yang telah
dilaksanakan oleh petugas kabupaten dan tenaga kesehatan lingkungan
Puskesmas. Dari 14 (empat belas ) lokasi TP2 yang ada telah diperiksa di
Kembang Janggut , Anggana, Badak Baru, Separi III, Muara
Muntai, Batuah, Loa Kulu, Teluk Dalam, Marangkayu, Muara
Badak, Mangkurawang,Muara Kaman,Muara Jawa dan Rapak Mahang
dimana sebanyak 33 buah yang diawasi diketahui 6 buah ( 18 % ) memenuhi syarat kesehatan, artinya dapat disimpulkan juga TP2 yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah sejumlah 27 buah dari seluruh jumlah yang diperiksa atau sekitar 82 %.
Secara keseluruhan pengawasan dari 25 puskesmas yang ada diketahui jumlah keseluruhan didapat 425 buah TP2 diperiksa 391 buah dan memenuhi syarat 263 atau 67,3 %.
Hasil lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran Ia dan I b
b. Penyuluhan dan sertifikasi Tempat Pengelolaan Pestisida.
Penyuluhan dan Sertifikasi Tempat Pengelolaan Pestisida pada 6 (enam ) lokasi Puskesmas,dengan hasil sebagai berikut :
NO. Lokasi Jumlah Peserta Mendapat Sertifikat Ket
1. Separi III 20 14 Lulus
2. Mangkurawang 20 0
3. Rapak Mahang 20 0
4. Loa Ipuh 20 0
5. Muara Badak 20 12 Lulus
6. Marangkayu 20 9 Lulus
J u m l a h : 120 25 Lulus

Contoh sertifikat yang didapatkan peserta yang lulus sertifikasi bisa dilihat pada
Lampiran II ( dua )

Tujuan dari sertifikasi penjamah ini adalah :
- Penjamah/pengelola pestisida menjadi tahu dan mengerti akan pestisida dan pengaruh terhadap kesehatan lingkungan dan kualitas/derajat kesehatan diri dan masyarakat sekitarnya
- Penjamah/pengelola dapat menangani pestisida sebaik mungkin sesuai dengan standar keamanan dan kesehatan agar dapat menghindari/meminimalkan tingkat terpaparnya pestisida
Sasaran kegiatan ini adalah : penjamah pestisida (petani/pekerja) dan pengelola pestisida dari berbagai sektor pekerjaan.

Materi yang disampaikan pada kegiatan sertifikasi adalah sebagai berikut :

I. Materi Inti

1. Pengenalan Pestisida
2. Keracunan pestisida,dan upaya pencegahannya serta pertolongan pertama pada keracunan
3. Pencemaran pestisida terhadap lingkungan dan pencegahannya
4. Pengelolaan pestisida yang tepat dan aman
5. Persyaratan teknis penjamah pengelola pestisida
6. Peragaan penggunaan APD ( praktek)

II. Materi Tambahan

Prosedur mendapatkan rekomendasi Tempat Pengelolaan Pestisida ( TP2 )

Pemeriksaan Cholinesterase darah pada 8 (delapan ) lokasi Puskesmas, yaitu :
1. Muara Muntai
2. Rimba Ayu
3. Muara Badak
4. Marangkayu
5. Kembang Janggut
6. Loa Kulu
7. Mangkurawang dan
8. Batuah.
Kegiatan yang dilakukan berkenaan dengan pemeriksaan Cholinesterase Darah
adalah :
a) Penyuluhan singkat dan tanya jawab tentang dampak pestisida bagi kesehatan
lingkungan dan kesehatan masyarakat
b) Wawancara dengan Responden untuk pengisian Study KAP
c) Pengambilan darah responden untuk pemeriksaan Cholinesterase darah guna
mengetahui keadaan penderita/tingkat pemaparan pestisida.
Setelah hasil pemeriksaan laboratorium diperoleh, dapat diinformasikan kepada petani yang hadir berikut saran tindak lanjut yang dapat dilakukan.
Sehingga didapatkan hasil seluruh kegiatan pemeriksaan Cholinesterase darah di
tahun 2008 adalah sebagai berikut :

• Jumlah Responden : 223 orang
• Normal : 123 orang ( 55,2 %)
• Terpapar Ringan : 80 orang ( 35,9 % )
• Terpapar Sedang : 20 orang ( 55,8 %)
• Terpapar Berat : Tidak ada ( 0 % )
Lebih jelasnya hasil pemeriksan cholinesterase bisa dilihat di Lampiran III ( tiga )

5. Pengendalian dampak negatife sampah
a. Pembinaan dan pengawasan pengelolaan sampah di pemukiman dengan sasaran pada 11 ( sebelas ) Puskesmas yaitu :
1. Loa Kulu
2. Loa Janan,
3. Muara Badak
4. Loa Duri
5. Muara Jawa
6. Separi III
7. Kembang Janggut
8. Mangkurawang 2 kali
9. Loa Ipuh
10. Rapak Mahang
Kegiatan pembinaan dan pengawasan pengelolaan sampah di pemukiman ditujukan untuk pengendalian dampak negatif sampah dimana kegiatan yang dilaksanakan adalah pengawasan TPS (Tempat Pembuangan Sementara) dan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sampah, serta pengendalian terhadap vektor penyakit yang berkembang biak disampah penduduk dipemukiman dekat TPA . Adapun rekapitulasi hasil kegiatan pengawasan pengelolaan sampah di pemukiman oleh petugas kesehatan lingkungan,rata-rata bernilai sedang pada 8 (delapan ) lokasi.
Hasil kegiatan pengawasan tempat penamampungan sampah sementara
pada Lampiran IV ( empat )
c. Pengukuran indeks lalat sebanyak 4 kali Selama 1 tahun
Hasil pengukuran kepadatan lalat bisa dilihat pada Lampiran V ( lima )
d. Usaha pemberantasan vektor penyakit lalat di ditempat – tempat pembuangan sampah dengan melakukan penyemprotan lalat pada 4 lokasi selama setahun yaitu : Mangkurawang, Rapak Mahang dan Loa Ipuh sebanyak 2 kali penyemprotan.
Kegiatan ini ditujukan untuk pengendalian terhadap vektor penyakit diarahkan terhadap penanganan lalat di TPS dan TPA berupa pengukuran kepadatan lalat dan pemberantasan lalat (khusus di TPA) di perkotaan .Kegiatan penyemprotan ini dilaksanakan setelah kegiatan pengukuran indek lalat diketahui, dengan sasaran adalah TPS dan TPA dimana indek lalat sudah melebihi kepadatan atau standar rata – rata lalat per blok grill nya.
Hasil kegiatan secara keseluruhan untuk tahun 2008 .

Bahan pestisida Alat yang digunakan Petugas pelaksana

Cynoff 25 ULV
Mist blower 1. Ariyadi
2. Zainuddin

Di daerah perkotaan dengan indikasi pencemaran udara tinggi dilaksanakannya pemantauan kualitas udara debu terendap sebanyak 5 kali pemantauan selama 1 tahun pada 5 lokasi, yaitu :
1. Pasar tangga arung
2. Museum Mulawarman
3. Kantor Bupati Kukar
4. Puskesmas Rapak Mahang dan
5. TPA Bekotok
Kegiatan pemantauan debu terendap ditahun 2008 dengan menggunakan alat
dust foil Collector. Pemeriksaan hasil dilakukan oleh petugas laboratorium
RSU.A.M.Parikesit dengan hasil memenuhi syarat rata-rata 2,0 mg/l (dibawah
nilai ambang batas).
Hasil pemantauan dapat dilihat pada Lampiran VI ( enam )

VII. Pembinaan dan pemantauan kesehatan lingkungan pemukiman perumahan dan bangunan
a. Kegiatan temu karya desa pada 2 ( dua) lokasi puskesmas di Puskesmas Anggana dan Kota Bangun
Pembinaan dan pemantauan kesehatan lingkungan pemukiman, perumahan dan bangunan sehat ( temu karya ) di kecamatan Pembinaan dan pemantauan dilakukan terhadap pelaksanaan kegiatan pemantauan kesehatan lingkungan pemukiman yang telah dilaksanakan oleh sanitasi Puskesmas dalam bentuk inspeksi sanitasi.
b. Pelatihan kader jumantik dan survey jentik di 6 (enam ) kecamatan , yaitu Tenggarong,Loa Kulu,Loa Duri,Muara Badak,Teluk Dalam dan Kec.Anggana.
c. Pendataan/survey rumah sehat dan survey jentik sebagai upaya menurunkan tingkat penyebaran nyamuk demam berdarah dan mengetahui Angka Bebas Jentik ( ABJ ).
Kegiatan ini dilaksanakan dengan melakukan inspeksi sanitasi oleh petugas sanitasi puskesmas dalam rangka mengadakan penilaian keadaan pemukiman termasuk fasilitas sanitasi dan lingkungannya.
Penilaian dilakukan pada desa percontohan terpilih di masing-masing wilayah kerja Puskesmas dengan menggunakan Survei Desa Sendiri (SDS) dan Kartu Rumah untuk mendapatkan kondisi sarana kesehatan lingkungan di desa tersebut.


VII. PEMBIAYAAN KEGIATAN

Seluruh biaya yang digunakan untuk pelaksanaan kegiatan Penyehatan Lingkungan Pemukiman ini dibebankan pada DPA Peningkatan Pelayanan Penyehatan Lingkungan Tahun Anggaran 2008.
Realisasi penggunaan anggaran tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran XII


VIII. HAMBATAN YANG DIHADAPI

Dari semua kegiatan program penyehatan lingkungan pemukiman yang dilaksanakan sampai akhir tahun 2008 masih belum semua jenis program dapat dilaksanakan secara optimal bahkan ada yang belum sama sekali dilaksanakan. Hal ini adalah sebagai hambatan untuk memenuhi tujuan dan target kegiatan yang telah ditetapkan, secara garis besar hambatan yang ditemukan adalah sebagai berikut :

1. Belum optimalnya sumber daya manusia baik dari segi jumlah maupun kualitasnya yang dalam hal ini adalah petugas sanitasi dan atau petugas kesehatan lingkungan yang berada di kabupaten maupun yang berada di puskesmas untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan fungsinya. Hal ini dikarenakan terbatasnya perkembangan informasi dan frekuensi pelatihan atau penyegaran ilmu pengetahuan dibidang kesehatan lingkungan serta terbatasnya dan terlambatnya anggaran operasional turun untuk menunjang pelaksanaan program dan beban kerja dari program lain
2. Masih kurangnya peralatan teknis maupun pengoperasiannya untuk mendukung pelaksanaan pengawasan / pemantauan kualitas lingkungan pemukiman.
3. Masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang peran serta mereka dalam upaya penyehatan lingkungan pemukiman sehinga mereka beranggapan bahwa pemenuhan fasilitas sanitasi dipemukiman semata-mata adalah tanggung jawab pemerintah.
4. Sebagian masyarakat menganggap fasilitas sanitasi dirumahnya bukan merupakan kebutuhan sehingga mereka memanfaatkan sungai untuk jamban keluarga
5. Tingginya angka kepadatan lalat ditempat pembuangan akhir sampah karena sistem yang dipergunakan masih open Dumping.
6. Pengendalian lalat baru dilakukan di daerah perkotaan (Tenggarong) dengan melakukan penyemprotan pada TPA dan TPS.
7. Pemeriksaan Cholinesterase darah yang seharusnya dilakukan 2 (dua) kali dalam setahun, hanya bisa dilakukan 1 (satu) kali setahun dengan hanya dengan lokasi kegiatan yang terbatas.


IX. KESIMPULAN DAN SARAN

a. Kesimpulan
Secara keseluruhan kegiatan penyehatan lingkungan pemukiman dalam skala kabupaten didapatkan hasil sebagai berikut :
1. Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang dari jumlah kk yang ada 143.562 diperiksa 54.953 jumlah sehat 6.631 ( 15,34 % )
2. Jumlah peserta yang mengikuti sertifikasi penjamah pestisida pada 6 lokasi sebanyak 120 peserta dengan jumlah peserta yang lulus dan mendapat sertifikat adalah 25 orang
3. Hasil pementauan debu terendap tahun 2008 masih dibawah Nilai Ambang Batas ( < NAB )
4. Cholinesterase Darah terhadap para petani di 8 ( delapan ) lokasi dengan 223 responden pada lokasi Muara Muntai, Rimba Ayu, Muara Badak, Marangkayu, Kembang Janggut, Loa Kulu , Tenggarong ( Mangkurawang ) ,Batuah dengan Hasil sebagai berikut :
Normal : 52,2 %
Terpapar Rendah : 35,9 %
Terpapar Sedang : 55,8 %
Terpapar Berat : Tidak Ada ( 0% )
5. Tempat Pengelolaan Pestisida (TP2 Paestisida ) yang memenuhi syarat : 263 buah ( 67,3 % )
6. Perumahan yang memenuhi syarat /sehat : 29.136 ( 59,19 % )
7. Persentase rumah/bangunan yang diperiksa dan bebas jentik nyamuk 21.092 buah ( 45,90 % )


b. Saran

Untuk dapat memenuhi harapan yang ingin dicapai dengan target angka telah ditetapkan, upaya yang harus diambil adalah melaksanakan semua kegiatan program dengan memperhatikan dan mencukupi semua kebutuhan baik teknis maupun operasional, antara lain :
1. Menyiapkan sumber daya manusia ( petugas kesehatan lingkungan puskesmas dan kabupaten ) yang tangguh dengan dibekali pengetahuan yang cukup dan pengetahuan yang memadai dengan cara memberikan bimbingan teknis secara sistematis yang optimal dan mengadakan pelatihan –pelatihan
2. Tersedianya dana yang cukup untuk menunjang biaya operasional kegiatan semua program penyehatan lingkungan pemukiman
3. Penyediaan peralatan teknis yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan pengendalaian dan pemantauan penyehatan lingkungan pemukiman berikut perlengkapan alat pelindung diri untuk petugas kesling dilapangan.
4. Meningkatkan peran petugas kesehatan lingkungan puskesmas dalam melaksanakan pendataan dan pemeriksaan program penyehatan lingkungan pemukiman.
5. Meningkatkan kegiatan penyuluhan dan gerakan Jum’at bersih .
6. Menyarankan kepada sektor terkait untuk mempertimbangkan sistem pembuangan akhir sampah yang dipergunakan sekarang untuk dirubah dari sistem open Dumping menjadi sanitary landfill dan kontrol landfill.


X. P E N U T U P


Demikian laporan tahunan Seksi Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kab. Kutai Kartanegara tahun 2008 dibuat, untuk mengetahui sejauh mana perkembangan dan peningkatan kegiatan disetiap tahunnya. Terakhir, harapan kami bahwa laporan ini bisa berguna dan bermanfaat serta dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.



Tenggarong, Maret 2008.
Plh.KaSi Peny.Ling.Pemukiman



Muspiwin , S.Sos
NIP. 140 205 501





Mengetahui :
Kepala Dinas,




dr.H.Abdurachman
Pembina Utama Muda
NIP. 140 126 792

0 komentar:

 
 
 


Copy kode di bawah ke blog sobat, saya akan linkback secepatnya

DINKES KUKAR